Syahdan Ali Syabana

Aku Syahdan Ali Syabana, lahir di atas gerobak angkutan barang, 27 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1990. Ketika itu subuh menjelang pagi, ayahku yang sedang merapikan karet-karet ban dalam sepeda motor yang biasanya ia gunakan mengikat barang angkutannya, sontak berlari kedalam kamar. Ya! Ia medengar Atifah, mantan kekasihnya menjerit menahan perih. Lelaki muda itu berlari kegirangan sambil berteriak,  “Anakku…. Anakku… Sudah tiba waktunya… Hahaiiiiii!”. Ia sekejap terdiam melihat perempuan kesayangannya kaku menahan kram di perutnya. Matanya sayup, nafasnya serak menengadah mencari oksigen. Sepertinya tidak ada pasar hari ini. Tanpa pikir panjang, Ali Syabana menggendong istrinya, meletakannya di gerobak andalannya, lalu tancap gas dengan formasi lari ala sayap kiri Timnas Indonesia yang sedang masuk final Piala Tiger saat itu.

Aspal yang penuh dengan retakan dan terkadang berlubang bukan halangan bagi Ali Syahbana untuk mengurangi kecepatan. Atifah masih merintih perlahan, dan gelombang jalan membuat perempuan pujaannya bak menaiki roller coaster  di Taman Impian Jaya Ancol yang sedang ramai iklannya di TV milik Cina penjual elektronik di pasar Mandonga. Masih kurang lebih lima ratus meter dari puskesmas, tiba-tiba Atifah merintih dan berteriak. Tubuhnya menegang mengunci semua otot-otonya, jatuh keringatnya berupa bulir-bulir, matanya nampak terpejam dalam kesakitan yang ia lawan. Ali Syahbana terhenti dan mendekap istrinya tepat di sebelah kiri persimpangan jalan, tempat gerobaknya ia parkirkan. Selang berapa lama, dengan perjuangan sendiri, lahirlah bayi yang ditunggu-tunggu dalam keluarga kecil kuli angkut di pasar Mondonga ini. Lahir seorang laki-laki dengan rambut sedikit ikal dengan batok kepala yang cukup lebar dahinya nampak sedikit menonjol. Sejenak warga melintas dan singgah melihat kejadian itu, ramai bak pasar kaki lima pukul enam pagi itu. Dengan bantuan warga sekitar, dibopohlah Atifah dan anak laki-lakinya ke puskesmas untuk mendapat perawatan dari bidan setempat.

Terlihat wajah merona Ali Syahbana bercampur linangan kaca-kaca air mata dipipinya. Mimpinya jadi seorang kepala keluarga telah terwujud pagi hari itu. Dia menamai anak pertamanya Syahdan Ali Syabana. Nama untuk laki-laki tampan, berwibawa dan bertanggung jawab sepeti dirinya. Dalam doanya ia menitipkan anak laki-lakinya ini kelak menjadi seorang yang berguna untuk keluarga dan bangsanya, seperti halnya dirinya yang dinamai oleh ayahnya yang seorang tukang reparasi radio keliling di pasar Mondonga. Meskipun mimpi ayahnya tidak terwujud, Ali Syahbana tidak putus asa. Sambil mengikat karet di gerobaknya, dia menimang sebuah amanah. Dalam tatapnya yang menajam, dalam hatinya dia bicara bahwa anaknya akan meneruskan mimpi kakeknya. Suatu saat Syahdan akan mengubah keadaan ekonomi keluargadan menjadi panutan dalam silsilah keturunannya. Begitulah seharusnya mimpi dipupuk dan dibesarkan dalam keyakinan Ali Syahbana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s